Ada perasaan lega ketika menyelesaikan cerita Ketika Cinta Itu Dia (KCID). Entah darimana asalnya ada rasa haru yang keluar menjadi butir-butir bening yang mengalir menyusuri sudut mataku. Sambil menyekanya, aku sesekali tersenyum. Sudah sangat sering aku membuatnya keluar menyedihkan seperti ini, pikirku. Lalu ku putar kembali beberapa ingatan tentang masa-masa yang sudah terlewati beberapa tahun itu. Ku temui lagi semua hal yang sudah terjadi, yang menyadariku banyak hal tentang cinta, yang membuatku mengerti tentang apa yang semestinya.
Ketika ku baca lagi beberapa kalimat terakhir dari KCID, aku menguatkan hatiku sekali lagi. Mungkin ini buka hanya tentang aku yang mencari cinta pertamanya. Mungkin di luar sana, ada pula beberapa cinta yang hanya bisa disimpan, direlakan, meskipun dengan konteks yang berbeda bahwa mereka mungkin satu langkah lebih maju dariku dengan menyatakan cintanya. Kadang pula aku merasa iri dengan kesempatan dan keberanian itu. Bukan karena aku lebih mencintai diriku sendiri. Namun ada batas yang mungkin jika ku langgar dengan menyatakan, aku akan lebih kehilangan. Kehilangan cintaku, kehilangan seorang teman.
Namun jika ku sadari lebih awal, mungkin hari itu adalah satu-satunya kesempatanku yang tidak akan ada lagi. Dan ketika aku benar-benar kehilangannya seperti saat ini, rasa sesal itu entah menguap kemana. Ia menyesakkanku beberapa saat. Merasa tidak adil, ketika aku yang berusaha untuk mencapai satu langkah terkahir menujunya, namun dengan waktu yang bersamaan entah datangnya dari mana ada cinta lain yang memberikan tangannya lebih dulu. Pertanyaan-pertanyaan mengapa seperti ini, mengapa dia, mengapa harus dia, mengapa memberiku jalan menujumu, menggantung di bawah langit yang mengikuti kemanapun. Pertanyaan-pertanyaan emosional itu menguasaiku beberapa saat. Tanpa memberi izin pada logika untuk turut andil menyelesaikan kekusutan hatiku ketika itu.
Dan setelah sampai pada bagian akhir dari tulisan KCID, rasa haru itu benar-benar jelas menggerogoti dadaku. Bahwa sudah sejauh ini, sudah waktunya pula untuk aku berhenti. Melihat dia jauh lebih bahagia, bukankah itu yang lebih melegakan? Benar bahwa masih ada perasaan aneh yang menuntut hati untuk bereaksi berlebihan ketika melihatnya berbahagia, namun ini jauh lebih nyata dibanding perasaanku yang tidak ditauhinya mungkin sampai hari ini.
Tentang cinta yang akan tetap aman menjadi rahasia, tentang dia yang sudah memilih jalannya, dan tentang semua cerita yang bisa ku tulis hari ini, adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Petualangan yang sduah ku mulai sejak 2008 silam sampai hari ini ketika aku sampai di Yogyakarta kota yang menjadi jawaban semua pertanyaanku tentangnya benar-benar merupakan perjalanan hidup yang mengagumkan.
Dan untuk kalian semua yang masih menyimpan cintanya dalam-dalam, hanya ada dua pilihan untuk perasaan itu. menyatakannya atau tetap menjadikannya rahasia bersama waktu. Mungkin akan banyak hal yang tidak terduga jika kalian lebih berani menyatakannya, tapi jika kalian memutuskan untuk tetap menjadikannya rahasia, kalian harus rela berakhir seperti saya saat ini. melihat cinta yang sudah ditunggu bertahun-tahun pergi tanpa tahu sedikitpun tentang cerita penantian itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar