Minggu, 28 Desember 2014

ketika cinta itu dia...#3

Ketika semua tanya hanya sampai pada catatan harian bergaris, dan ketika cinta hanya bisa sampai dan berhenti di kerongkongan, ketika melihatnya berlalu membuka takdir baru, seketika itu pula kerinduan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan. Tidak hanya ketika aku tiba-tiba terdiam, di malam-malam menjelang tidur ia semakin menggila. berjalan, tidak cepat namun juga tidak begitu lambat. Dan berhenti pada ruang kosong di rongga dada.

Bagian yang menyedihkan dari ini bukan pada saat cinta itu memilih untuk berjalan lebih dulu, bukan pula ketika melihatnya tersenyum untuk seseorang, melainkan menyadari kesendirianku menangisi cinta yang tidak pernah sempat keluar manjadi kalimat-kalimat kejujuran yang sudah ku rangkai. Menyadari keberadaanku yang masih ada ditempat yang sama, dengan semua ungkapan yang hanya bisa ku pegangi saja erat-erat.

Benar, bahwa cinta itu semakin jauh dan segala kemungkinanpun menjadi semakin mustahil. Meskipun belum sepenuhnya benar setiap manusia menafsirkan segala sesuatunya, namun pada keadaan ini, tidak juga menyerah, tapi tidak juga melakukan apapun. Aku melepasnya, hanya sekedar melihat seberapa jauh ia bisa terbang dan seberapa kuat aku berdiri menungguinya.

Tidak ada bagian yang paling menyedihkan selain ketika malam menjadi semakin larut, ketika suara bumi menghening, tetapi kerinduan tentangnya berubah menjadi gelombang yang menghasilkan bunyi begitu merdu. Merayu hatiku lagi, melemahkan hatiku lagi. Aku melalui malam-malam menyedihkan untuk beberapa waktu. Dan ketika cinta itu hadir entah dari mana, sekai lagi, ia membimbangkanku.

Aku mengingatnya lagi, tersenyum lagi, bahagia lagi. Dan ia menawarkannya lagi. Perasaan-perasaan yang menggebu, kerinduan-kerinduan yang terobati, senyum dan tatapan yang meneduhkan. Ia menawarkanku lagi cinta yang sudah ku lepas sebelumnya. Ia mengisi kekosongan ruang yang hanya bisa ku tangisi setiap malam mulai menghening. Ia menghacurkan kembali semua dinding yang ku bangun satu demi satu. Untuk melapisi hatiku, membuatnya tidak terlihat, membuatnya bisa bersembunyi dan menangis kapanpun. Ia meluluh lantahkan lagi semunya.

Namun ada yang berbeda dari perasaan yang sangat jelas ku kenali sebelumnya. Seketika menjadi asing, bukan seperti gumpalan rindu yg biasa mengisi ruang kosong itu, ada rasa yang lain. Ketika aku menjadi terbiasa dan satu demi satu rindu itu membelah, memecah. lalu belahan lainnya menjadi bagian yang ku kenali namun tidak ingin ku akui. Apakah benar ini akhir dari penantianku? Apakah aku menyerah?

Aku menjadi terbiasa dengan semua yang ku temui tentangnya. Kebimbanganku akhirnya pun terjawab. Pertanyaanku tidak harus menunggu pemiliknya menjawab. Sudah ku putuskan sendiri. Ketika cinta yang hanya ku rasa sendiri, ketika rindu yang hanya ku dekapi sendiri, lalu sebenarnya apa yang ku mau lagi? Pertanyaanku itu menggelikanku sendiri. Aku tersenyum sesaat untuk masa-masa indah yang ku rasa sendiri. Untuk pencarian 6 tahun silam, dan untuk rasa yang hanya akan ku simpan, aku masih bisa merasakan bahagia.

Separuh dari bagian remajaku memang telah terbawa, separuh dari cinta pertama itu memang sudah menguap menjadi titik-titik embun yang mungkin telah ku lewati. Saat ini, bahkan ketika aku merindukannya, sakit itu tidak lagi bisa menguasai ruang kosongku. Dan aku menemui jawabanku, bahwa sesungguhnya aku bukan merindukannya. Aku hanya merindu anak remaja laki-laki yang berseragam pramuka dengan mata teduhnya. Aku hanya merindukan anak remaja laki-laki yang menggoyahkan jiwa remajaku, yang menyukaiku ketika bernyanyi, yang memanggilku "ndee..." 

Jawabanku itu  adalah sosoknya dimasala lalu. Aku hanya berusaha membangun sosok tokoh utama di cacatan harian bergarisku. Dan aku melupakan satu hal. Aku menjadi semakin sibuk dengan perasaanku, tanpa menyadari waktu sudah berjalan cukup lama, mengubah kita, mengubah semua yang ada pada kita. Aku menjadi sangat egois memaksakannya menjadi dia beberapa tahun yang lalu. Dan ketika ia memilih untuk melepas genggamanannya, aku sudah kehilangan banyak. Cinta remajaku, juga dia. 

Hari-hari berikutnya adalah mengembalikan hati seperti sedia kala. Setiap cerita selalu memiliki bagian akhir. Begitupun dengan catatan harianku yang tadinya menggantung akhirnya bisa ku selesaikan. Bagaimanapun selalu ada awal dari sebuah keputusan untuk melepaskan. Setidaknya, perjalananku untuk pertanyaan-pertanyaan itu satu-satu sudah ku pecah menjadi mozaik-mozaik untuk kehidupan selanjutnya. Dan untuk seseorang yang menjadi akhir dari catatan yang sudah semestinya ku selesaikan, terima kasih banyak. Untuk menjadi inspirasi dalam penulisan Ketika Cinta Itu Dia.., terima kasih.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar