Kamis, 25 Desember 2014

ketika cinta itu dia...


Awalnya ini hanya menjadi cerita cinta yang ramai setiap hari ku tuangkan dalam catatan harian kecil bergaris 6 tahun silam. Cerita yang kekanak-kanakan untuk terus ku ingat hingga saat ini. hingga waktu berlalu begitu cepat, hingga dari begitu banyak hal yang berubah, namun yang satu ini tidak ada yang berubah.

Benar bahwa kita memiliki pemahaman yang berbeda tentang cinta yang pernah terjadi dalam hidup kita. Jelas bahwa aku, kamu, dan kalian semua memiliki pemahaman yang berbeda tentang itu. Namun bukankah  perasaan itu sama saja membuat seluruh isi perut kita semua menjadi gaduh? hahaha, luar biasanya, sampai saat ini perasaan seperti itu masih bisa ku rasakan. 


Bahkan setelah segala hal telah berubah dengan sendirinya, juga bahkan setelah aku berhenti untuk mencari jejak tokoh utama dalam buku harian remajaku itu. Selain menyerah setelah bertahun-tahun masa pencarianku, apalagi yang bisa ku lakukan? Aku beradu dengan pertanyaan itu terus menerus, dari hari ke hari. Tapi benar, semakin aku berusaha semakin aku mendapati diriku dalam kesunyian yang ku ciptakan sendiri dengan sempurna.

Banyak hal yang aku sadari sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalananku. Bahwa ternyata, tidak ada satupun yang ku harapkan dari cinta kekanak-kanakanku itu. Dengan alasan rindu aku menyiksa hatiku mencarinya kesemua tempat. 

Menggunakan alasan itu aku kemudian masuk ke tahap pencarian yang sesungguhnya. "Siapa aku? Apa yang aku cari? Apa yang ku mau?" Aku hidup dengan alasan itu untuk terus menjadi lebih baik setiap hari. Bertemu dengan orang baru, membuka hatiku lagi, berkomitmen, dan menjalani bagian yang harus ku jalani ketika itu.

Dan setelah waktu mengubahku menjadi seseorang yang seperti saat ini, setelah penantian itu terkubur entah dibagian mana dalam ingatanku, takdir pun akhirnya menemui waktunya. Tanpa pernah memimpikannya lagi, bahkan mengharapkanya lagi. tanpa sekalipun membayangkannya lagi, seketika itu saja duniaku berhenti cukup lama. Ketika aku menemui matanya, Melihat inci demi inci wajahnya dan berhenti tepat pada tarikan senyum yang masih ku ingat bahkan setelah semuanya berhasil ku lalui. Dia masih tampak mengagumkan seperti dulu

Entah kalimat seperti apa yang bisa mendefinisikan perasaan cintaku. Sampai sekarang aku masih terus saja mengutuk jiwa kekanak-kanakanku tentang itu. Bagaimana ada seseorang yang jatuh cinta untuk kedua kalinya kepada orang yang sama? Apakah dia bisa disebut manusia sesungguhnya? atau hanya sebuah halusinasi yang masuk menjadi tokoh lain dalam catatan buku harian bergaris yang menemui sambungan ceritanya.

Aku bergumam seperti itu dalam hening, saat-saat menjelang tidur, diatas bus, dijalan menuju ruang kuliah, aku menggumamkannya dengan lugu.. 
cinta seperti apa ini, ketika inti dari perjalananku adalah kebimbangan tentangnya, tentang takdir yang berhenti dan menghentikan aku saat ini.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar