Seperti senja yang tetap mengagumkan bahkan ketika malam mulai menelannya..
Rindu sama pula mengagumkannya. Setidaknya dalam putaran waktuku yang tiba-tiba berhenti , ketika itu aku menyadarinya. Sudah berapa lama sebenarnya perasaan ini mengendap..., membayangi..., dan mengikuti dengan tenangnya.
Iyah, ada saatnya aku mengiba. Ingin sekali mengajaknya melihat langit lain yang jauh. Tapi kenyataannya tiada lagit yang bisa dijangkau bahkan oleh kedua mataku sendiri. Jarak pandangku hanya jatuh pada bayangan yang telah lama hanya diam di tempatnya itu. Diam, dia yang tanpa bicara pun merenyuhkan kembali puing-puing kokoh yang sudah berhasil ku bangun dalam keputus asaanku. Dan aku menyadari kegagalanku.
Bagaimana suaranya memanggilku, juga ketika matanya memandangiku lembut. Aku kembali bernostalgia dengan perasaan-perasaan lama yang hanya ku mainkan sendiri. Aku membenamkan diriku pada samudera yang sudah lama berhasil ku lewati dengan segala macam cara yang ku bisa diusia remajaku. Dan aku menyadari kegagalanku.
Ketika aku menguburkan semua harapan konyolku, ketika aku berusaha berlari melupakan jengkal demi jengkal perasaanku, seketika dengan berani kemunculannya memungkinkan penyemogaanku terkabul. Ketika aku benar-benar sampi pada titik dimana aku menyadari bahwa keinginanku itu hanyalah buaian masa lalu yang masih saja ku simpan, dia yang tanpa izin tersenyum padaku lagi, membimbangkanku lagi.
Semua menjadi sangat aneh ketika keinginan yang hanya bisa ku ceritakan pada catatan harian bergarisku itu menjadi kenyataan. Semua yang ku tulis, semua yang ingin ku nyanyikan, dan yang ingin ku katakan, semua benar-benar terlihat seperti skenario sempurna. Dan dengan singkat aku berpikir bahwa inilah akhir dari drama itu. Aku kehilangannya 6 tahun lalu, dan tiba-tiba semuanya berubah dalam sehari.
Sayanganya ada bagian yang ku lewatkan dari drama ini. Perasaanku begitu penting awalnya. Tanpa menoleh ke arahnya lagi, tanpa melihat kekhawatirannya lagi. Aku benar-benar memuaskan peran ku dengan sempurna.
Dan ketika aku sampai pada bagian itu, definisiku tentang cinta semakin merumit. Pertanyaanku semakin hari semakin bertambah banyak. Bahkan ketika aku memutuskan untuk menulis segala hal tentang cinta itu, belum ada satupun dari pertanyaan itu yang bisa ku jawab. Entah mungkin karena yang ku tanyakan begitu sulit, atau mungkin pemilik jawaban itu tidak lagi bisa ku temui.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar