Senin, 16 Februari 2015



Alhamdulillah sampai juga pada hari ini. Hari dimana bertahun-tahun dengan kalimat yang sama dan senyum serta binar mata yang sama, ibunda selalu bercerita tentang kebahagiaannya memilikiku. Beliau bercerita dengan tawa bangga yang selalu membuatku merinding ketika mendengarnya. Dan cerita perjuangannya menahan sakit semalamam sampai rasanya kematian sudah didepan mata selalu membuatku merasa bersalah sampai hari ini..

21 tahun cerita itu berlalu. Aku tumbuh cukup baik dengan kasih sayang yang tidak pernah kurang sedikitpun. Kasih sayang yang menjadi tamparan ketika aku mengeluh dalam jalanku berproses, kasih sayang yang selalu menjadi obat ampuh ketika sakit menggerogoti tubuh di perantauan.

21 tahun berlalu,, meski belum banyak bahkan masih belum sebanding dengan setengah keringat dan lelah mereka, hari ini... rasa terima kasih untuk semua hal yang tidak cukup untuk bisa ku utarakan. terima kasih karena telah menjadi ayah ibuku, menjadi kakak satu2ku, menjadi malaikat-malaikat yang selalu khawatir tentangku.

Untuk ayah yang selalu menjadi kekuatan bagi ibu, kakak dan aku, untuk keluarga terima kasih. Hal-hal yang tidak sempat ku tau, rasa khawatir yang selalu ku tampik, rasa sayang yang tidak ku mengerti terima kasih.

Untuk ibu yang selalu menjadi perekat bagi kami, ayah, kakak, aku, dan keluarga kita terima kasih. Makanan, pakaian yang selalu engkau sediakan, cinta yang tidak pernah habis, serta air mata yang selalu jatuh hanya karena demam semalam, yang tidak pernah tertidur sebelum aku, terima kasih. 

Untuk kakak yang satu-satunya ku miliki. Aku kadang terlihat acuh, kadang dengan tiba-tiba menunjukan kemarahanku. Bukan karena akka melakukan kesalahan, hanya saja aku tidak menyukai perhatianmu terbagi pada yang lain selain aku. Aku selalu ingin menjadi yang satu-satunya untukmu. Tapi mengungkapkannya itu yang masih belum bisa ku lakukan. Terima kasih untuk banyak hal...

21 tahun tumbuh ditengah-tengah kalian adalah hadiah yang selalu ku syukuri setiap hari. Bahwa aku adalah anak ayah ibu, adik akka satu-satunya. Maaf untuk semua kesalahan bungsu kalian ini.. juga terima kasih..







sayang kalian,,

ayah, ibu, akka, ande
yogyakarta, 17 februari 2015

Rabu, 14 Januari 2015

Ketika arti rindu adalah dia

Seseorang yang ku kenal pernah mengatakan ini, bahwa tidak ada alasan menangisi seseorang yang tidak mengetahui isi hatimu. "Alasan bahwa mencintainya lebih dalam tidak sama sekali membenarkan air matamu jatuh setiap saat," katanya.

Kalimat-kalimat itu seperti meruntuhkan kekuatanku selama ini. Susunan katanya seperti mengaburkan semua hal yang ku lakukan. Tentang kerinduan yang tiap malam ku tangisi dan tentang perasaan yang ku anggap sebagai oksigen dimana setiap hari membantuku bernafas, seketika itu aku seperti kehilangan semuanya.

Jelas bahwa aku menemui batas jenuhku. Umm,, mungkin lebih tepatnya aku menemui pencerahan yang tepat. Memang agak sedikit terlambat bahwa aku mulai menemui ujung benang merah yang terlanjur mengusut bertahun-tahun dan aku hidup dengan hanya memeganginya. Dan entah dari mana kekuatan untuk mulai menarik ujungnya ku dapati. Sambil terus menariknya, secara bersamaan semua hal yang terjadi  sebelum hari ini tiba menghampiri dan meragukan jemari-jemariku lagi. Iyah, aku masih bisa merasakan bagaimana melewati malam-malam yang seperti hantu itu. Aku juga masih bisa merasakan ruang kosong yang hanya ku sediakan untuk sesuatu yang ku yakini didirinya. Hanya saja aku masih tidak percaya bahwa aku lebih berani melihat sisi lainku yang menyedihkan saat ini.

Lalu kemudian aku menyadarinya, bagaimana sesuatu yang tidak pernah dimulai bahkan bisa memiliki akhir? Aku mengulanginya terus menerus. Aku bahkan terlupa bahwa telah sampai di titik ini.Tidak ada yang pernah dimulai sebelumnya, lalu apa yang bisa ku harapkan? Aku bisa mendengar kalimat itu ditengah-tengah penantianku. 

Sampai ketika secara tidak sengaja aku bertemu dengan wajah yang sangat ku kenali berdiri di hadapanku. Ia menangis, Ia mengatakan bahwa sudah selesai semuanya. Bahwa aku hanya terobsesi pada cinta kecil yang masih saja ku bawa-bawa. Ia mengatakan bahwa sudah saatnya melanjutkan hidup. Ia terus menangis, tapi binar dimatanya berbeda. Sesaat sebelum ku sadari bahwa aku sedang berbicara pada diriku sendiri adalah aku melihatnya tersenyum. 

Cinta yang selalu ku ceritakan pada akhirnya ku sadari sebagai cinta remaja yang hanya bisa tumbuh waktu dulu saja. Cinta yang terlihat kekanak-kanakan yang sudah tak seharusnya ku paksakan lagi kehadirannya. Aku memaksakan hatiku tanpa bertanya lebih dulu apakah ia terluka. Aku mengabaikan beberapa hal dan melanggarnya. Tidak seharusnya ku paksakan hatiku jika sejak awal sudah ku tahu bahwa aku hanya memiliki keberanian menyukainya sebanyak yang ku mau tanpa keberanian mengatakannya. 

Dan tulisan ini... entahlah dengan maksud apa. Hanya saja aku menemuinya lagi dalam mimpi beberapa hari yang lalu. Mungkin karena aku merindukan sosok hangatnya. Atau hal lain yang dulu pernah membuatku jatuh cinta padanya. 

Sudah ku selesaikan cinta kecilku. Iyah, seharusnya sudah dari jauh-jauh hari. Aku hanya ingin mengatakan bahwa saat ini, aku jauh lebih baik.




Kamis, 01 Januari 2015

alasan itu dia

Setelah menghadiri sebuah seminar dimana aku menjadi salah satu peembicara dalam acara yang digalakan para mahasiswa itu, langsung saja dengan tergesa-gesa aku mencari dimana toilet kampus yang terkenal dengan gedungnya yang luas itu. Dengan meminta bantuan beberapa mahasiswa yang tidak sengaja ku temui di luar, akhirnya aku menemukannya. Tidak tunggu lama langsung ku muntahkan saja semua isi dalam perutku. Kemudian setelah menunggu beberapa saat dan merasa lebih baik, ku telepon pak Pardi supir pribadiku untuk menjemputku segera.

“Mbak, ke rumah sakit aja yah,” kata pak Pardi yang melihatku lemas bersandar di kursi belakang. Keadaanku seperti ini memang sudah biasa ku tampik dan ku acuhkan. Tapi kali ini aku benar-benar merasa tidak sanggup. Rasa nyari dibagian perutku benar-benar tidak seperti sakit yang biasanya ku rasa. Langsung saja tanpa menunggu jawabanku pak Pardi mengarahkan mobil menuju rumah sakit terdekat.

Setelah mendapatkan ruangan, rasa nyeri diperutku semakin menjadi. Air mataku sudah tidak keluar lagi, begitupun suaraku. Aku hanya bisa terpejam sambil memegangi perutku. Masih sempat ku dengar beberapa suster melaporkan hasil pemeriksaan mereka pada dokter bahwa maagku yang kambuh. Setelah itu aku benar-benar tidak bisa mendengar apapun lagi.
….
Beberapa saat kemuadian akupun terbangung setelah menghabis beberapa jam tertidur pulas. Mataku kesana kemari mencari pak Supri tapi tidak ada. Dan ketika aku menoleh keluar jendela mataku berhenti pada sebuah memo yang ditingalkan di atas meja dekat ranjangku saat itu. langsung saja ku ambil dan ku baca.

Cepat sembuh, Hani.” Tanpa meninggalkan nama atau petunjuk apapun. Ku putar kembali ingatanku untuk menebak siapa yang menulis memo ini. Namun, tidak ada yang memanggilku Hani selama ini kecuali… Bibirku keluh dan tanganku mulai berkeringat. “Dewa,” kataku bersemangat. “Iya, Dewa.” Hanya dia yang memanggilku Hani, karena menurutnya nama Hanindia begitu rumit diucapkan.

Ku lihat pak Pardi masuk membawa laptop, handphone dan pakaian gantiku. Ia terkejut melihatku sudah duduk sambil cengengesan.

“Loh, Mbak, ada apa?”

“Pak Pardi, tadi selain suster sama dokter ada siapa lagi?”

Pak Pardi sedikit tertegun. Dengan keningnya yang berkerut ia menggeleng dan mengatakan bahwa tidak ada orang lain selain dia, dua orang suster dan seorang dokter. “Belum ada yang tahu Mbak Hanindia masuk rumah sakit,” tambahnya. Raut wajahku langsung berubah mendengar penuturan pak Pardi, supir setiaku itu. “Ada apa Mbak?” Aku hanya menggeleng dan merebahkan kembali badanku sambil menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.
….

Demi mengusir kejenuhanku, ku buka kembali leptop kesayanganku itu dan ku lihat beberpa tulisan yang belum sempat ku selesaikan. Maklumlah, sebagai seorang penulis dateline adalah yang mengerikan dan tidak ada alasan untuk menundanya. Jadi sembari berbaring, ku selesaikan beberap paragraf yang bisa ku selesaikan. Sesaat kemudian ku lihat dua suster masuk dan membawa peralatannya. “Diperiksa dulu, mbak Hanindia,” kata salah satu dari mereka dengan ramah. Aku hanya mengangguk dan menaruh leptopku di atas meja samping ranjang.

“Suster, kira-kira kapan yah saya bisa keluar?” tanyaku penasaran mengingat cafe yang harus ku urusi. Belum sempat suster yang ku tanya itu menjawab, seseorang dengan jas putihnya memasuki ruanga dan mengambil alih tugas suster dengan cepat.

“Sore ini bisa pulang kalau pasiennya nurut buat istirahat,” katanya sembari sesekali melirikku. Mendadak hening yang ada di ruangan. Kedua suster itu pun juga hanya saling melirik satu sama lain. Ku lihat lagi lekat-lekat seseorang yang sedang memeriksa tensi darahku itu. Dan ternyata ketiaka ia membalasku dengan menatap, langsung seketika itu aku mengenalinya.

“Dewa!!!”
“Dewa! Iya kan Dewa?” tanyaku terus. Ku lihat anggukannya yang masih saja mengagumkan. Langsung ku peluk teman kecilku itu. ia pun membalasnya. Sontak hari itu menjadi hari reunian mendadak kami. Yah walaupun Dewa adalah seniorku satu tahun, namun kami selalu ada di sekolah yang sama sejak Sekolah Dasar sampai SMA. Barulah ketika ia memutuskan untuk keluar kota tidak ada lagi kontak yang tersedia. Benar bahwa aku pernah mendengarnya menjadi seorang dokter, namun aku tidak menyangka bahwa ia bertugas di kota ini.

Kami tidak bisa mengobrol lebih lama karena ia harus melanjutkan lagi pekerjaannya. Dia mengisyaratkanku untuk melepas sementara kegiatanku bersama leptopku itu dengan lirikan matanya dan telunjuknya yang megarah pada leptop dan telepon genggam di samping ranjangku. Aku hanya mengangguk dan ia pun berjalan meninggalkan ruanganku. Ku lirik pak Pardi yang cengengesan melihatku curiga. Aku hanya tersenyum geli dan kembali berbaring.
….
Dewa adalah semua alasan yang terjadi di dalam hidupku sampai saat ini. Ia Selain baik, ia juga terkenal karena kecerdasannya sewaktu sekolah dulu. Beberapa kali menjadi ketua OSIS sewaktu SMP dan SMA dan aku menjadi bagian di dalamnya. Tidak bisa ku pastikan jelas kapan dan bagaimana awalnya kami mulai dekat. Namun, dengan seringnya mengikuti organisasi yang sama sewaktu itu, kami menjadi sering bertukar pikiran dan mengembangkan ide-ide untuk  organisasi kami. Karena seringnya kami mengikuti kegiatan di waktu sekolah, beberapa dari kami sampai harus membawa buku pelajaran untuk dipelajari kembali. Dan karena Dewa merupakan kakak kelas satu tahun diatasku, aku menjadi lebih mudah untuk bertanya. Dia pun tidak keberatan menjelaskannya padaku.

Hal itu berlanjut ketika aku memasuki jenjang menengah dimana Dewa sangat membantuku banyak hal. Kami pun menjadi semakin dekat. Meskipun tidak searah, ia kadang menjemput dan mengantarku pulang. Selain itu ia juga sering mengajakku untuk melihat acara-acara yang diadakan sekolah. Sampai pada saat kami menikmati makan siang di kantin sekolah, ia menatapku lekat dan mengalihkannya lagi.

“Ada apa?” tanyaku penasaran. Ia menggeleng dan hanya tersenyum. “Ih, kenapa sih?” tanyaku semakin penasaran sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

“Aku udah daftar di fakaultas kedokteran,” jawabnya dengan mata berbinar-binar. Aku sudah yakin bahwa itu adalah pilihan terbaiknya. Aku pun begitu senang. “Kamu harus belajar yang bener, biar bisa bareng aku nanti,” celotehnya.

Aku langsung terdiam. Apakah Dewa menginginkanku untuk terus mengikutinya, atau hanya ucapan biasa yang tidak sengaja dilontarkannya. Meskipun aku juga memiliki niat untuk menjadi seorang dokter, namun aku tidak begitu memiliki keyakinan menjalaninya. Aku hanya senyam senyum sembari melahap makan siangku. Entah mungkin karena terlalu seringnya kami bersama sehingga mendengar kalimatnya itu aku merasakan sesuatu yang berbeda. Mungkin hanya perasaanku atau mungkin juga tidak. Namun sepertnya semakin hari perasaanku semakin berkembang pula.
….
Jika mengingat kejadian itu, kadang karena aku bukanlah seorang dokter hari ini aku menjadi takut berhadapan dengannya. Hari itu entah mengapa aku seperti mendengar permintaannya yang sungguh-sungguh. Dengan terus membayangkan akan terus bersamanya, aku mati-matian mengejar ketertinggalanku dan berusaha untuk bisa lolos dan masuk di fakultas tersebut. Selain alasan tersebut, aku juga tidak ingin berada jauh dari Dewa ketika itu.  

Salah satu hal yang selalu ku ingat dan menjadi penyemangatku ketika itu adalah dihari kelulusannya dan keberhasilannya lolos menjadi salah satu mahasiswa kedokteran, ia mengajakku makan malam sebelum akhirnya harus pergi ke luar kota tempatnya melanjutkan kuliah. Masih jelas diingatanku bagaimana ia begitu bahagia. Tanganku digenggamnya sepanjang perjalan denga begitu erat. Tidak lepas senyumnya malam itu. Hah, perasaanku pun juga ikut melayang kemana-mana.

“Kamu pasti bisa,” katanya sembari mengacak-acakkan rambutku seperti anak kecil. Aku hanya tersenyum. “Aku tunggu kamu disana, yah,” tutupnya

“Doain aku,” kataku pelan. “Aku jadi gugup banget.” Ia hanya mengangguk dengan yakin. Dan sebelum pulang, aku memberikan sebuah hadiah. “Nanti aja bukanya.”

Ia melihatku sekali lagi. Dan dengan gerakan yang sangat cepat, ia mengecup rambutku. Untuk pertama kalinya bagi kami, dan itu terjadi begitu saja. Pipiku memerah dan Dewa pun terlihat sangat salah tingkah. Senyum kami tidak bisa lagi tertahankan. Ingin sekali rasanya ku nyatakan saja perasaanku, namun aku masih merasa belum pantas untuk seorang Dewa. Aku belum menjadi apapun, pikirku.
….
Suatu hari terburuk dimana aku kehilangan segalanya pun terjadi dimana beberapa tahun lalu ketika aku mengetahui kegagalanku masuk ujian perguruan tinggi. Aku menjadi sangat bingung, apa yang harus ku lakukan, dia pasti telah menungguku, pikirku dalam hati. Kami sudah saling tidak memberi kabar setelah malam itu dan aku berharap setelah pengumuman aku akan menghubunginya. Namun, semua yang ku rencanakan memecah satu-satu.

Aku semakin malu untuk menghubunginya. Dan setelah berpikir beberapa hari, akhirnya ku putuskan untuk keluar kota dan memulai sesuatu yang baru disana, tempat dimana aku tidak akan menunjukkan wajahku kepada Dewa. Setelah mendapat persetujuan orang tua, satu-satunya tempat yang terintas dibenakku ketika itu adalah Yogyakarta. Aku mengganti nomor telepon dan menonaktifkan semua akun yang berhubungan dengan Dewa. Aku benar-benar ingin memulai yang baru, tekatku.

Disinilah hidupku benar-benar menjadi berubah. Aku menemukan banyak hal disini. Apa yang aku inginkan. Dan dari semua pencarianku yag paling mengagumkan adalah aku menemukan tujuanku. Pelan-pelan ku bangun dari menjadi seorang penulis amatiran yang mengirimkan tulisan-tulisannya disemua website yang menyediakan forum bagi penulis pemula sepertiku sampai menjadi aku yang seperti saat ini. Tidak berhenti disitu, karena kegemaranku mencari tempat tongkrongan ketika kuliah dulu, akupun mewujudkannya sekarang dengan membuka sebuah café dimana semua anak-anak muda bisa menggunakannya untuk berdiskusi, mengerjakan tugas, ataupun dijadikan pilihan untuk ngedate. Dan inspirasi penulisanku pun bisa keluar jika sudah duduk di café yang susah payah ku cari modalnya itu.

Dengan semua hal yang sudah ku lakukan sampai hari ini, kesedihanku karena gagal menjadi seorang dokter sudah bisa ku obati. Rasa kecewa yang tidak ditunjukkan orang tuaku karena kejadian beberapa tahun yang lalu itu pun sepertinya sudah terbayarkan dengan pencapaian yang bisa mereka lihat dan rasakan hasilnya itu. Aku merasa lebih hidup saat ini. Menikmati pekerjaan yang benar-benar ku sukai.

Namun, pertemuanku bersama Dewa benar-benar membuatku gugup. Aku sudah menghilang begitu saja tanpa memberinya kabar, sejujurnya aku merasa bersalah.
….
Dibantu pak Pardi dan bu Ina, istrinya, semua barang-barangku pun sudah rapih. Suster pun telah datang untuk memberikan pemeriksaan yang terakhir. Namun kali ini, dia… Dewa tidak ada.

“Suster, dokter Dewa…”

“Dokter Dewa masih ada urusan mbak,” sela si suster dengan ramah. Aku hanya mengangguk lesu mendengar jawaban suster itu. Terlintas dipikiranku tentang dia. Bagaimana bisa dia tidak mengunjungiku, pikirku menyeletuk dalam hati. Dan setelah semuanya selesai, kami pun meninggalkan rumah sakit. Perasaan kesal dan berbagai pertanyaan sudah membentang sana-sini di otakku dalam perjalanan pulang.

Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, aku memulai aktivitas seperti biasnya. Namun kali ini aku disibukkan dengan rencana pembukaan butik yang isinya adalah hasil dari rancanganku sendiri. Mimpi yang sejak lama ku bayangkan itu masih dalam pengerjaan untuk diwujudkan. Aku mulai kesana-kemari mencari tempat, bernego harga sewa, lalu mencari bahan-bahan kain yang berkualitas. Dan setelah seharian berkeliling ditemani pak Pardi, ku putuskan untuk menulis sebentar di café sambil melihat perkembangan omsetnya.

Sambil terus memeriksa laporan keuangannya aku tidak sadar seseorang telah duduk di depanku. Ia tersenyum melihat keterkejutanku. Belum sempat berkata apapun, ia langsung menyodorkan buku perdana yang ku tulis.

“Ini asli, loh. Jadi kamu harus ngasih tanda tangan untuk penggemarmu ini,” katanya cengengesan. Aku masih terkejut, namun raut wajah Dewa yang teduh itu membuat senyumku cepat sekali mengembang. Ku ambil buku dan merogoh isi tasku untuk mencari pulpen. Sejurus kemudian ia menyodorkan sebuah pulpen yang tidak asing menurutku. “Nih,” katanya. Aku meraih pulpen itu dan melihatnya sekali lagi. Benar-benar ini mengejutkan, pikirku. Ia masih menyimpannya.

“Ini kan..” tanyaku terputus melihat anggukan Dewa. “Kamu masih simpan?” sekali lagi ia hanya mengangguk.
“Pulpen kamu udah ngobatin banyak orang, Han,” katanya. Seketika raut wajah Dewa pun mulai berubah. “Kenapa kamu tiba-tiba gak ada kabar? Apa karena ucapanku yang bilang mau nunggu kamu jadi dokter?”

Mataku mulai berair. Perasaan malupun mulai merayapi otakku. Aku hanya mengangguk sambil terus menunduk. Seketika itu Dewa langsung mengambil tempat duduk di sampingku dan mendekapku begitu hangat. Ia mengusap rambutku pelan sekali.

“Aku gak bermaksud gitu, Han. Selama ini aku nyari kamu kemana-mana,” katanya dengan nada yang berat. Aku hanya bisa diam sambil sesekali terisak. “Jangan pergi lagi, yah.” Kalimat terakhir Dewa benar-benar membuatku gemetar. Perasaan yang bercampur aduk menggebu memaksa keluar dari dalam jiwaku. Perasaan tak pantasku semua hilang. Saat ini yang bisa ku rasa adalah aku menginginkannya.

Semua hal yang ku lakukan, semua pembuktian yang ingin ku tunjukkan,benar-benar terbalaskan. Dia kembali padaku, menjawab perasaan masa remaja kami. Dia, sosok semua alasan dalam hidupku benar-benar tidak bisa ku biarkan pergi lagi. Kali ini aku pun tidak akan lari lagi. Aku sudah menunggu lama untuk saat-saat seperti ini.



Rabu, 31 Desember 2014

Happy born day Ibu

Tidak akan pernah cukup syair pujian yang menggambarkan sosok ibu bagi setiap orang. Tentang bagaimana pengorbanan beliau dari mulai mengandung, sampai melahirkan dan membesarkan kita sampai hari ini, belum ada kalimat yang cukup untuk mengungkapkan rasa terima kasih tiap anak kepada ibundanya. Kita semua pasti memiliki cerita yang berkesan tentang ibu, entah bagaimana ketika mengingat semuanya rasa lelah, putus asa dalam perantauan, menjadi hilang. Sedikit pengantar tentang ibu, hari ini saya akan bercerita banyak hal tentang bagaimana ibunda saya memperjuangkan kelahiran saya dan menyemangati masa kecil saya yang harus tiap bulan bolak-balik ke rumah sakit.

Ketika saya berulang tahun beberapa tahun lalu, sambil membelai menemani saya tidur malam itu beliau bercerita tentang kebahagiaannya mengandung anak keduanya (saya). Beliau sangat bersemangat menjaga kesehatannya demi pertumbuhan saya yang masih dalam kandungan ketika itu. Namun ada bagian yang membuat dada saya begitu sesak ketika beliau bercerita bahwa ketika mengidam adalah saat-saat yang sangat menakutkan. Tidak sama dengan wanita hamil pada umumnya, ibunda saya tiap beberapa jam sekali akan memuntahkan gumpalan cacing yang entah dari mana asalnya. Mata beliau memerah ketika bercerita itu sambil terus membelai rambut saya.

"Cacing, Bu? Lalu bagaimana Ibu bertahan?" tanyaku polos. Ibu melanjutkan ceritanya bahwa ia sangat menginginkan anak yang dikandungnya (saya) lahir dengan selamat. Bahkan ketika beliau harus menutup matanya kuat-kuat untuk tidak melihat cacing-cacing itu keluar dari mulutnya, beliau masih tetap bersikeras untuk mempertahankan saya. Dan kalimat yang selalu membuat saya merasa durhaka sebagai anak yang diperjuangkan dengan susah payah adalah ketika beliau mengatakan bahwa ia ikhlas jika sampai 6 bulan kemudian untuk memuntahkan cancing, asalkan anak yang dikandungnya selamat. "Ibu selalu yakin kamu bisa menjadi kebanggaan Ibu, entah dengan cara apapun," tutupnya. Kalimat terakhir ibu itu membuat saya benar-benar tidak bisa lagi menahan diri. Sembari memeluk, kami terisak beberapa saat.  

Tidak berhenti pada saat ibunda saya dengan masa-masa sulitnya ketika mengidam, ketika saya lahir pun merupakan saat-saat yang sangat berat bagi ayah dan ibu ketika itu. Terlahir dengan titipan penyakit, setiap bulan saya harus bolak-balik untuk memeriksakan diri. Sampai ketika satu tahun lalu setelah menjalani operasi, saya setengah terbangun dengan tangisan Ibu yang tepat duduk disebelah ranjang saya. Beliau menangis membangunkan saya. Ia menahan dokter dan beberapa suster menanyai mereka berulang-ulang mengapa anak saya lama sekali sadarnya. Timbul tenggelam suara beliau di telinga saya ketika itu.

Sebenanrnya saya bisa mendengar beliau, saya bisa merasakan beliau menggoyang-goyangkan lengan saya, namun entah mengapa mata saya berat sekali untuk terbuka. Saya terus saja mendengar beliau menangis di balik telepon. Ayah masih berada di luar kota ketika itu. Sampai saya benar-benar tidak bisa lagi mendengar suara Ibu, dan entah berkelana ke alam mana. Namun sesaat kemudian saya mendengar bacaan-bacaan ayat yang biasa saya dengar. Tidak hanya itu, saya juga mengenali suara yang timbul tenggelam itu. Beberapa saat kemudian saya mulai bisa merasakan genggaman dingin yang erat sekali. Dan ketika saya membuka mata beberapa jam setelah operasi seketika itu beliau menjadi histeris dan memeluk saya berkali-kali.

Beliau menjadi lebih sensitif setelah saya menjalani operasi setahun yang lalu itu. Ia lebih sering memeluk saya, dan lebih sering menemani saya. Beliau akan menangis hanya karena saya mengikuti perkemahan sekolah. Beliau tersedu-sedu dibalik telepon mengatakan kerinduannya. Mengingat hal itu kadang merenyuhkan hati saya. 

Kehilangan anak pertama membuat Ibu saya menjadi sangat dekat dengan kakak perempuan saya satu-satunya, terutama dengan saya sendiri. Mereka memperlakukan kami layaknya putri yang semua kebutuhan kami adalah hal yang tidak boleh tidak terpenuhi menurut Ayah Ibu. Tumbuh menjadi anak dengan kasih sayang yang tidak terhingga, tidak menghilangan peraturan-peraturan yang harus kami ikuti. Ayah Ibu mendidik kami layaknya orang tua kepada anak, kakak kepada adik, dan layaknya sahabat kepada sahabat. Tanggung jawab, kejujuran, dan agama merupakan salah satu yang tidak boleh ada pengecualian dalam keluarga kami.  Dan semua hal dalam kendali Ibu. Ibu menjadi jantung keluarga kami.

Ibu di keluarga kami adalah malaikat yang selalu berusaha kami jaga hatinya. Seperti Ayah memperlakukan Ibu, kami pun seperti itu. Dan hari ini, khusus ucapan terima kasih kami (ayah, akka, adek) untuk malaikat kami tercinta (ibu) dihari lahir beliau.

"Selamat Ulang tahun Ibu kami, kecintaan kami, kesayangan kami..
Maaf karena keberadaan anak-anakmu yang jauh sehingga hanya bisa mengirimi beberapa hadiah tanpa bisa memberi pelukan..
Ibu kami, kesayangan kami, terima kasih untuk tetap sehat hingga hari ini.. tetap mengurusi kami, menyayangi kami, yang mendoakan kami, yang melakukan banyak hal yang mungkin tidak pernah kami duga telah engkau lakukan... Untuk semua itu terima kasih kami, Ibu...
Tetaplah sehat, karena kami (anak-anakmu) dalam perjalanan menjadi yang terbaik untukmu, yang sedang berjuang menjadikan mimpi-mimpi yang Ibu inginkan terwujud...
Semoga Allah terus melimpahkan kesehatan, dan keselamatan padamu, Ibu..
Selamat ulang tahun dari jauh,, semoga tetap dalam lindugan Allah SWT,, Amin..
Kami menyayangimu Ibu..." 




Senin, 29 Desember 2014

Adele - I Can't Make You Love Me

Adele - I Can't Make You Love Me


Turn down the lights
Turn down the bed
Turn down these voices
Inside my head
Lay down with me
Tell me no lies
Just hold me close
Don't patronize
Don't patronize me

I can't make you love me if you don't
You can't make your heart feel
Somethin' that it won't
Here in the dark, in these final hours
I will lay down my heart
And I will feel the power but you won't
No you won't
'Cause I can't make you love me
When you don't
When you don't

I'll close my eyes
'Cause then I won't see
The love you don't feel
When you're holdin' me
Morning will come
And I'll do what's right
Just give me till then
To give up this fight
And I will give up this fight

'Cause I can't make you love me if you don't
You can't make your heart feel
Somethin' that it won't
Here in the dark, in these final hours
I will lay down my heart
I will feel the power but you won't
No you won't
'Cause I can't make you love me
When you don't
When you don't

terima kasih

Ada perasaan lega ketika menyelesaikan cerita Ketika Cinta Itu Dia (KCID). Entah darimana asalnya ada rasa haru yang keluar menjadi butir-butir bening yang mengalir menyusuri sudut mataku. Sambil menyekanya, aku sesekali tersenyum. Sudah sangat sering aku membuatnya keluar menyedihkan seperti ini, pikirku. Lalu ku putar kembali beberapa ingatan tentang masa-masa yang sudah terlewati beberapa tahun itu. Ku temui lagi semua hal yang sudah terjadi, yang menyadariku banyak hal tentang cinta, yang membuatku mengerti tentang apa yang semestinya.

Ketika ku baca lagi beberapa kalimat terakhir dari KCID, aku menguatkan hatiku sekali lagi. Mungkin ini buka hanya tentang aku yang mencari cinta pertamanya. Mungkin di luar sana, ada pula beberapa cinta yang hanya bisa disimpan, direlakan, meskipun dengan konteks yang berbeda bahwa mereka mungkin satu langkah lebih maju dariku dengan menyatakan cintanya. Kadang pula aku merasa iri dengan kesempatan dan keberanian itu. Bukan karena aku lebih mencintai diriku sendiri. Namun ada batas yang mungkin jika ku langgar dengan menyatakan, aku akan lebih kehilangan. Kehilangan cintaku, kehilangan seorang teman. 

Namun jika ku sadari lebih awal, mungkin hari itu adalah satu-satunya kesempatanku yang tidak akan ada lagi. Dan ketika aku benar-benar kehilangannya seperti saat ini, rasa sesal itu entah menguap kemana. Ia menyesakkanku beberapa saat. Merasa tidak adil, ketika aku yang berusaha untuk mencapai satu langkah terkahir menujunya, namun dengan waktu yang bersamaan entah datangnya dari mana ada cinta lain yang memberikan tangannya lebih dulu. Pertanyaan-pertanyaan mengapa seperti ini, mengapa dia, mengapa harus dia, mengapa memberiku jalan menujumu, menggantung di bawah langit yang mengikuti kemanapun. Pertanyaan-pertanyaan emosional itu menguasaiku beberapa saat. Tanpa memberi izin pada logika untuk turut andil menyelesaikan kekusutan hatiku ketika itu.

Dan setelah sampai pada bagian akhir dari tulisan KCID, rasa haru itu benar-benar jelas menggerogoti dadaku. Bahwa sudah sejauh ini, sudah waktunya pula untuk aku berhenti. Melihat dia jauh lebih bahagia, bukankah itu yang lebih melegakan? Benar bahwa masih ada perasaan aneh yang menuntut hati untuk bereaksi berlebihan ketika melihatnya berbahagia, namun ini jauh lebih nyata dibanding perasaanku yang tidak ditauhinya mungkin sampai hari ini.

Tentang cinta yang akan tetap aman menjadi rahasia, tentang dia yang sudah memilih jalannya, dan tentang semua cerita yang bisa ku tulis hari ini, adalah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Petualangan yang sduah ku mulai sejak 2008 silam sampai hari ini ketika aku sampai di Yogyakarta kota yang menjadi jawaban semua pertanyaanku tentangnya benar-benar merupakan perjalanan hidup yang mengagumkan. 

Dan untuk kalian semua yang masih menyimpan cintanya dalam-dalam, hanya ada dua pilihan untuk perasaan itu. menyatakannya atau tetap menjadikannya rahasia bersama waktu. Mungkin akan banyak hal yang tidak terduga jika kalian lebih berani menyatakannya, tapi jika kalian memutuskan untuk tetap menjadikannya rahasia, kalian harus rela berakhir seperti saya saat ini. melihat cinta yang sudah ditunggu bertahun-tahun pergi tanpa tahu sedikitpun tentang cerita penantian itu.  


Minggu, 28 Desember 2014



Setuju? Saya sih setuju sekali. Mimpi, cita-cita itu toh gratis. Dan Tuhan Maha Kaya. Jadi, jangan takut memimpikan yang besar dan banyak. Lalu wujudkan!!
Kalau ada yang masih ingat, dicuplikan film 5cm  ada kalimat yang sangat menarik berikut ini, "Hanya impian yang besar yang membuat seseorang berbeda dari yang lainnya." Wah,,, dan saya pikir itu inspiratif sekali. Kita yang muda-muda ini, yang memiliki kesempurnaan untuk bisa melakuan apapun, mari berkarya sebanyak-banyaknya. Untuk kebanggaan kita dikemudian hari, untuk senyum ayah ibu kita. Semangat!!